Dear Arkham,
Hei … saya baru saja selesai
menonton film yang bagus. Saya tidak akan menceritakannya kembali padamu karena
saya tahu kamu tidak akan membacanya, juga pasti kamu tidak akan peduli karena
bagimu itu adalah hal yang membosankan.
Benar,kan?
Tapi Kham, sedikit tidaknya kamu
mesti tahu tentang kisah ini, karena ini berhubungan dengan apa yang akan saya
tuliskan padamu.
Kisah ini tentang seorang penulis
freelance yang memiliki masa lalu yang menyedihkan. Kamu tahu sendiri,kan, ada
banyak hal yang akan kita temukan dalam hidup.
Saya tidak ingin membuatmu bingung,
hanya kamu harus tahu bahwa ada sesuatu yang menarik, sesuatu yang membuat saya
terus saja mengingatmu.
Tentang perjuangan,
Cinta,
Persahabatan,
Keikhlasan,
Dan banyak tentang hal lainnya.
Kham …
Ada satu tokoh yang membuat saya
tertarik dalam film itu.
Dia adalah tokoh figuran yang
memiliki peran yang sangat penting. Tokoh itu mengingatkan saya padamu, Kham.
Kamu tentu mengira saya berbicara
ngaco dan gak jelas. Seperti tidak ada keterkaitannya denganmu. Seperti yang
saya bilang sebelumnya, tokoh itu mengingatkan saya padamu. Kham, tokoh figuran
ini sangat baik dan selalu menemani tokoh utama yang ada di film itu. Tokoh figuran
ini mengenalkan perasaan yang menyenangkan, mengenalkan hari-hari yang luar
biasa, sesuatu yang tidak pernah dialami oleh sang tokoh utama. Hingga suatu
ketika, tokoh figuran ini pergi dan si tokoh utama itu merasa kosong.
Benar-benar kosong.
Sampai sini kamu pasti paham bagaimana
genre film itu, kan?
Tahu nggak, Kham …
Keputusanmu pergi membuat saya melewati
hari-hari yang berat, rumit, serta waktu-waktu yang canggung dan kisah-kisah
yang sedih.
Seperti katamu “Sementara waktu mencair,
hidup terus berjalan. Pelan-pelan kita akan bertumbuh dan paham untuk apa
sebenarnya kita hidup.”
Sungguh, kata-katamu seperti amerta
bagi saya.
Sama halnya seperti tokoh utama tersebut,
saya juga harus tetap tegar.
Benar begitu?
Dari temanmu,
i.m

Komentar
Posting Komentar