Dear Arkham,
Bagaimana kabarmu?
Semoga baik-baik saja, yaa …
Kham, saya tahu kalau kamu benci
berada di tengah keramaian. Seperti halnya ketika kamu bertemu dengan keluarga
dan sepupu-sepupumu saat perayaan hari-hari besar.
“Saya canggung sebab tidak begitu
akrab dengan mereka. Saya benci ketika masing-masing berusaha menonjolkan diri
agar diakui,” begitu katamu di penghujung sore kala itu.
Kamu selalu ingin pergi dan
menyendiri, menepi di antara orang-orang yang tidak sejalan denganmu. Saya
senang karena kamu tidak pernah menghindari saya yang sebenarnya hanya orang
asing.
Setelah kehilangan membuatmu selalu
berada di antara mereka. Kamu benci ketika mendengar obrolan miring tentang
orang lain. Kamu benci ketika mereka memintamu menjelaskan hal-hal yang begitu
privasi. Kamu juga benci saat mereka menjadi orang yang lebih tahu dibanding
dirimu sendiri.
Itu kali pertama kamu berbagi sesuatu
dengan saya. Itu juga kali pertama saya melihat wajahmu sendu dan sedih. Kham,
kalau terus memikirkan apa yang orang-orang katakan, maka kamu tidak akan
bahagia. Kalau kamu terus peduli dengan apa yang mereka pikirkan, maka kamu
tidak akan berkembang.
Nadir itu akan selalu membuat orang
terjebak, tertahan dan seperti asing diantara yang lain. Seperti halnya dirimu
yang hanya berjibaku pada kehilangan dan ketertinggalan yang tidak pernah kamu
inginkan.
Saya mendengar dari orang-orang yang
sudah banyak kehilangan, katanya begini, “Selama kamu masih memiliki
orang-orang tersayang disekitarmu, jangan pernah sesekali kecewakan mereka.
Kelak, kamu pasti akan merindukan semuanya ketika mereka sudah tiada. Percayalah,
mereka lebih penting dari apapun.”
Dari temanmu,
i.m

Komentar
Posting Komentar